Rabu, 23 September 2026

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC): Apa itu?

Bagi kalangan guru, tenaga kependidikan dan semua sivitas akademika pada lingkungan Kementerian Agama, tentu tidak asing lagi dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Lantas apa dan bagaimana sebenarnya kurikulum ini? Secara formil, kita bisa merujuk tinjauan secara konseptual terhadap KBC ini melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 Tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.

Namun untuk lebih mudah memahami konsep dasarnya, kita bisa mengacu pada paparan Direktur KSKK terkait dengan skema kerja KBC ini. Direktur KSKK (Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan) Madrasah di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI saat ini dijabat oleh Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si.

Dilansir dari channel YouTube Direktorat KSKK Madrasah, Direktur KSKK, mengatakan bahwa KBC ini bukan sekadar kurikulum, melainkan sebuah gebrakan perubahan pendidikan. Sebuah pendekatan yang menempatkan hati dan nilai kasih sebagai inti dari pelajaran.

Ada 3 indikator utama yang menjadi penanda keberhasilan implementasi KBC. Pertama, madrasah ramah lingkungan. Lingkungan belajar yang lestari, bersih dan rapi adalah cermin keimanan. Madrasah harus menjadi ruang yang menghargai ciptaan Allah SWT. Kita dorong praktik ramah lingkungan dari kebijakan hingga tindakan sehari-hari. Mengelola sampah, menanam pohon, dan membangun budaya hemat energi. Anak-anak diajarkan bahwa mencintai lingkungan bukan sekadar tugas, tetapi bagian dari ibadah dan rasa syukur.

Kedua, madrasah ramah anak. Madrasah harus menjadi rumah kedua yang aman dan penuh kasih. Tidak boleh ada tempat bagi kekerasan, perundungan, atau diskriminasi. Kita bangun ruang belajar yang inklusif dan toleran. Tempat setiap anak merasa diterima, dihargai dan punya hak yang sama untuk tumbuh. Kita ajarkan empati, saling menghormati, dan menjalin relasi sehat dalam keberagaman.

Ketiga, peserta didik sejahtera secara mental dan spiritual. Anak-anak madrasah tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat jiwanya, kuat emosinya dan matang spiritualnya. Melalui pendekatan social emotional learning, kita saling bantu mereka mengelola emosi, membangun ketangguhan, dan menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan zaman. Madrasah juga menyediakan layanan konseling dan ruang aman untuk peserta didik. Karena kita meyakini bahwa pendidikan yang menyentuh hati akan melahirkan generasi yang peduli dan berdaya. Ketika ketiga indikator ini berjalan, maka madrasah akan benar-benar menjadi tempat yang menyemai cinta, membangun peradaban dan menumbuhkan generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045.

Mari kita wujudkan madrasah yang ramah lingkungan, ramah anak dan mensejahterakan jiwa. Karena cinta bukan hanya diajarkan, tetapi dihadirkan melalui sikap, ruang dan keteladanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC): Apa itu?

Bagi kalangan guru, tenaga kependidikan dan semua sivitas akademika pada lingkungan Kementerian Agama, tentu tidak asing lagi dengan Kurikul...