Pernahkah Anda
meminjamkan uang kepada teman, namun di saat jatuh tempo, Anda mungkin tidak
menagihnya (entah karena malu, tidak terbiasa nagih hutang, atau semacamnya)
dan temen Anda (yang minjam itu) juga tidak menunjukkan itikad baik untuk
membayar, memberi kabar atau semacamnya? Bahkan, ketika bertemu setelah
kejadian, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa (seolah tidak punya
utang apapun)?! Dan biasanya ini terjadi pada orang-orang dekat di sekitar kita, baik itu teman, tetangga, mungkin saudara dan sebagainya.
Kejadian tersebut tentu
saja sangat mengecewakan kita yang meminjamkan uang. Walaupun yang minjam itu
adalah seorang teman. Rasa kecewa ini bukan soal semata-mata karena nominal
uang yang dipinjam, tetapi ini lebih kepada rasa dan kepercayaan yang telah
dilanggar dan disepelekan. Teman seperti itu benar-benar tidak bertanggung
jawab dan telah merusak nilai pertemanan sejati. Sekali lagi, ini bukan semata-mata
karena uang (walaupun bagi si kreditur, dia berhak mengambil atau membebaskan hutang si debiturnya). Mungkin nominalnya tidak seberapa, dan toh kalau semisal dia beritikad
baik dengan memberikan kabar atau konfirmasi jika memang belum sanggup
membayarnya, mungkin kita akan memberi kesempatan atau waktu tambahan, bahkan
mungkin dianggap lunas saja karena sudah beritikad baik.
Ini menjadi pelajaran
penting untuk kita semua. Jangan sampai menyepelekan hutang walaupun nilai
uangnya mungkin kecil, karena sekecil apapun hutang akan diminta pertanggung
jawaban dunia hingga akhirat. Jangan sampai malah justru kita senang memikirkan
hutang negara yang bukan sama sekali tanggung jawab kita. Hutang negara adalah
tanggung jawab atau urusan pemerintah dan pihak elitis lain yang terlibat dalam
akad. Tidak ada kewajiban bagi kita sebagai rakyat, untuk mikirin hutang
negara. Kewajiban kita adalah memikirkan hutang kita ke teman, sanak saudara,
dan semisalnya. Karena sekali lagi, sekecil apapun utang kita, jika belum
dianggap lunas oleh yang meminjamkan, sampai akhirat akan dituntut.