Senin, 12 Oktober 2026

Tidak Perlu Memikirkan Hutang Negara! Pikirkan saja Hutang ke Teman!

Pernahkah Anda meminjamkan uang kepada teman, namun di saat jatuh tempo, Anda mungkin tidak menagihnya (entah karena malu, tidak terbiasa nagih hutang, atau semacamnya) dan temen Anda (yang minjam itu) juga tidak menunjukkan itikad baik untuk membayar, memberi kabar atau semacamnya? Bahkan, ketika bertemu setelah kejadian, dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa (seolah tidak punya utang apapun)?! Dan biasanya ini terjadi pada orang-orang dekat di sekitar kita, baik itu teman, tetangga, mungkin saudara dan sebagainya.

Kejadian tersebut tentu saja sangat mengecewakan kita yang meminjamkan uang. Walaupun yang minjam itu adalah seorang teman. Rasa kecewa ini bukan soal semata-mata karena nominal uang yang dipinjam, tetapi ini lebih kepada rasa dan kepercayaan yang telah dilanggar dan disepelekan. Teman seperti itu benar-benar tidak bertanggung jawab dan telah merusak nilai pertemanan sejati. Sekali lagi, ini bukan semata-mata karena uang (walaupun bagi si kreditur, dia berhak mengambil atau membebaskan hutang si debiturnya). Mungkin nominalnya tidak seberapa, dan toh kalau semisal dia beritikad baik dengan memberikan kabar atau konfirmasi jika memang belum sanggup membayarnya, mungkin kita akan memberi kesempatan atau waktu tambahan, bahkan mungkin dianggap lunas saja karena sudah beritikad baik.

Ini menjadi pelajaran penting untuk kita semua. Jangan sampai menyepelekan hutang walaupun nilai uangnya mungkin kecil, karena sekecil apapun hutang akan diminta pertanggung jawaban dunia hingga akhirat. Jangan sampai malah justru kita senang memikirkan hutang negara yang bukan sama sekali tanggung jawab kita. Hutang negara adalah tanggung jawab atau urusan pemerintah dan pihak elitis lain yang terlibat dalam akad. Tidak ada kewajiban bagi kita sebagai rakyat, untuk mikirin hutang negara. Kewajiban kita adalah memikirkan hutang kita ke teman, sanak saudara, dan semisalnya. Karena sekali lagi, sekecil apapun utang kita, jika belum dianggap lunas oleh yang meminjamkan, sampai akhirat akan dituntut.


Sabtu, 10 Oktober 2026

Perkembangan Agama dan Keberagamaan Peserta Didik Tingkat SD

Menurut M. Quraish Shihab keberagamaan merupakan fitrah, yakni sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak lelahirannya: “Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu”. (QS Ar-Rum: 30). Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya. Mungkin manusia bisa menangguhkannya, tetapi tidak akan bisa selamanya. Begitu ajal hendak menjemput, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia akan merasakan kebutuhan terhadap agama. Dengan demikian tidak ada alasan yang logis seseorang untuk tidak menganut sebuah kepercayaan. Islam adalah agama fitrah, sehingga tatkala seseorang lahir ke muka bumi ini, ia berstatus sebagai manusia fitrah (Islam).

Banyak pendapat ahli yang mengutarakan permasalahan terkait perkembangan agama dan keberagamaan peserta didik. Dari semua pembahasan, dapat disederhanakan bahwa perkembangan agama dan keberagamaan peserta didik merupakan proses secara mandiri pada diri seseorang untuk menanamkan sebuah kepercayaan keagamaan dalam dirinya sejalan dengan faktor-faktor yang memengaruhinya pada ranah kehidupan. Anak didik pada jenjang usia sekolah dasar memiliki karakteristik meliputi ranah fisik, kognitif, dan psikososial yang khas. Pada tahap operasional konkret, mereka memahami konsep agama melalui pengalaman.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran penting dalam membentuk praktik keberagamaan peserta didik oleh para guru, di samping peran utama sekolah adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah paling tidak dapat menjadi wahana pendidik dalam menanamkan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia melalui keteladanan guru. Keterkaitan semua komponen di sekolah tersebut dapat memberikan nuansa dan suasana belajar dan proses pembelajaran yang kondusif serta efektif bagi peserta didik khususnya.

Tidak Perlu Memikirkan Hutang Negara! Pikirkan saja Hutang ke Teman!

Pernahkah Anda meminjamkan uang kepada teman, namun di saat jatuh tempo, Anda mungkin tidak menagihnya (entah karena malu, tidak terbiasa na...