Di tengah sulitnya mencari
pekerjaan, nyatanya bukan hanya pekerjaannya saja yang sulit didapat, namun
giliran sudah ada lowongan pun masih terdapat masalah yang muncul yaitu sulitnya
memenuhi persyaratan yang ditetapkan perusahaan. Di beberapa perusahaan, hal
ini bisa dianggap wajar, terutama perusahaan-perusahaan kelas kakap yang notabene
reputasinya sudah sangat tinggi di dunia pasar. Sehingga untuk menjamin
kualitas tenaga kerja, tentu membutuhkan instrumen yang cukup ketat dalam
menyeleksi calon-calon pekerja. Namun terkadang, yang membuat kita
geleng-geleng kepala, hal senada dijumpai juga di perusahaan yang bahkan
sekelas UMKM. Terkait hal ini, ada satu bahan diskusi yang cukup menarik
terkait sulit dan ruwetnya syarat-syarat dalam sebuah rekrutmen tenaga kerja. Ini
dari seorang Netizen yang masuk ke DM Instagram saya.
Kata dia, fenomena
susahnya syarat-syarat yang harus dipenuhi pada sebuah lowongan pekerjaan, ini
bukan tanpa alasan. Bagi pemilik perusahaan, dalam menetapkan banyaknya
persyaratan bagi calon karyawan itu, karena mereka tahu bahwa saat ini mencari
orang jujur, rajin, dan teliti, (dalam
hal ini orang yang cocok) itu susah. Kalau sedikit persyaratan tanpa
menyesuaikan kebutuhan, tentu mereka juga akan merasa kurang cocok dan akhirnya
dipecat. Nah, daripada mereka rekrut pekerja yang tidak cocok, kemudian dipecat
dan seperti itu seterusnya sampai menemukan yang cocok, maka mereka lebih
memilih menetapkan banyak persyaratan. Dengan banyaknya persyaratan akan
mempermudah mereka (HRD dan semisal) dalam menemukan kecocokan calon pekerja. Dan
walaupun banyak persyaratan yang ditetapkan, akhirnya ada juga yang daftar, karena
saking banyak orang yang membutuhkan pekerjaan, apalagi sekelas pedagang kaki
lima itu, masih banyak yang mencari. Motifnya antara lain buat sampingan
kuliah, sekolah, atau kerja sampingan.
Tetapi terkadang para
pemilik kerja (perusahaan) juga tidak memahami bahwa dengan banyak menetapkan persyaratan
yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka dengan gaji yang secukupnya di bawah
UMR, sehingga ini membuat para pekerja juga merasa tertekan dengan keterampilan
yang dimilikinya. Dia dituntut mampu menyesuaikan keinginan perusahaan, tetapi
dari pihak perusahaan tidak ada apresiasi seperti kenaikan gaji, bahkan pangkat,
sehingga membuat pekerja merasa dirinya tidak cocok di tempat itu. Dan pasti tahunya
ketika si pelamar kerja ini sudah bekerja di tempat kerjanya itu. Lagi pula kalau
terkait persyaratan seperti jujur, rajin, teliti, bagaimana mengukurnya pada
saat wawancara kerja? Apakah ada ukurannya untuk mengukur 3 komponen itu? Darimana
pihak perusahaan tahu kalo orang yang melamar kerja ini jujur, rajin dan teliti?
Menarik juga ya. Bagaimana
pendapat Anda terkait fenomena ini? Monggo dikomen!