Melihat fenomena distribusi,
terutama kompetensi guru dari hari ke hari yang semakin dramatis-dilematis, seakan
peredaran beritanya tak akan habis-habis, hingga saya terpikir bahwa, barangkali
rendahnya kualitas guru Indonesia itu disebabkan oleh sistem penerimaan calon
pendidik yang terlalu liar dan ugal-ugalan di perguruan tinggi. Kita tahu bahwa
rekrutmen calon mahasiswa baru di Fakultas Tarbiyah, FKIP dan semisalnya yang
notabene mahasiswa akan diarahkan untuk menjadi calon guru di masa mendatang,
ini terkesan digampangkan, dan juga tidak terlalu ketat. Sehingga distribusi
mahasiswa calon guru di Indonesia, terkadang tidak ideal, dan bahkan seolah dipaksakan,
di tengah kondisi ruang kelas atau daya tampung mahasiswa yang tidak mencukupi.
Hal ini mengindikasikan standar penerimaan mahasiswa calon guru relatif rendah.
Selain itu, yang paling mengkhawatirkan, jika sistem perkuliahan dilakukan dengan model-model konvensional yang terkadang kurang memberikan perlakuan positif terhadap daya intelektual dan emosional mahasiswa untuk membangun kebermaknaan proses pembelajaran. Ditambah lagi standar evaluasi atau mutu lulusan yang juga cenderung tidak memadai, akan memperburuk citra, bahkan outcome profesionalisme dan kompetensi dari seorang calon guru. Coba kita bandingkan dengan sekolah-sekolah kedinasan yang notabene standar penerimaan hingga kelulusan para mahasiswanya sangat tinggi. Sehingga calon-calon abdi negara pasca pendidikan, bisa merepresentasikan dirinya sebagai manusia dengan tingkat kredibilitas dan keterandalan yang tinggi juga. Oleh sebab itu, wajar sekali apa yang dikatakan oleh Nugroho (2025), bahwa masih ada harapan besar agar kampus keguruan dan ilmu pendidikan, dialih-statuskan menjadi ikatan dinas dengan standar masuk yang tinggi. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Setujukah jika kampus-kampus pendidikan dialih-statuskan menjadi ikatan dinas? Silakan berikan respon di komen ya!