Senin, 19 Oktober 2026

Pakar dan Tidak, Bagaimana Cara Membedakannya?

Kalau berbicara dalam konteks hari ini, kita sering menyaksikan tayangan-tayangan diskusi di televisi mainstream Indonesia. Isu yang sering dibahas tentunya tidak akan lepas dari tema yang sedang hangat terjadi atau dibicarakan. Beragam narasumber diundang dengan segala bidang dan latar belakang keahlian masing-masing turut mewarnai dinamika diskusi yang diperbincangkan tersebut. Tentu saja dialektika yang dibangun semacam itu, akan mengundang minat sejumlah audiens dan masyarakat luas guna mendapatkan informasi yang edukatif dan mencerahkan. Tetapi yang disesalkan beberapa media mainstream hari ini seakan sudah mulai banyak mengundang narasumber yang tidak lagi mempertimbangkan kompetensi di bidangnya. Atau sengaja menyandingkan narasumber yang pakar dan yang tidak, dalam satu panggung diskusi.

Persoalan tersebut menjadi keprihatinan yang saya rasakan dan mungkin dirasakan juga oleh semua kalangan masyarakat akademis di manapun. Media mainstream yang seharusnya bangga menyiarkan dan menampilkan narasumber yang kompeten di bidangnya, hari ini seakan direndahkan dengan disandingkannya narasumber (saya menyebutnya oknum-oknum) yang dipertanyakan kepakarannya sehingga mengundang kontroversi. Dan pada akhirnya, perdebatan pun menjadi tidak ilmiah dan sama sekali tidak mencerminkan seorang pembicara yang patut diteladani masyarakat. Seorang narasumber yang tidak pakar, tidak layak dijadikan panutan bersama, apalagi jika sudah mengabaikan nilai-nilai etika publik. Biasanya apa yang dikatakan narasumber dengan model-model inkompetensi seperti itu, hanya memberikan kesan di permukaan, tanpa makna sungguhan. Dan hebatnya lagi, terkadang oknum-oknum seperti itu sangat pandai berlindung dalam kemasan yang meyakinkan orang untuk menutupi ketidakpakarannya itu. Tetapi, semoga saja dugaan saya salah.

Ya sudahlah, saya tutup saja keprihatinan ini dengan sebuah peribahasa yang mengatakan “air beriak tanda tak dalam”. Makna dari peribahasa tersebut sebagaimana kita ketahui yaitu orang yang banyak bicara, sombong, atau suka pamer, biasanya tidak banyak ilmu atau pengetahuannya sangat dangkal. Semoga bermanfaat!

Matinya Kepakaran! Dunia Mulai Terbalik?

Andri Irawan - Di saat orang yang benar-benar pakar di bidangnya, seakan dianggap “banyak bicara tanpa makna.” Di saat orang yang ilmunya sangat dangkal, namun lihai berdebat dengan memainkan kata-kata dengan penuh propaganda, terkadang memutarbalikkan fakta, sehingga perkataannya seakan “dipercaya banyak manusia”. Maka pada saat itulah cahaya ilmu benar-benar telah redup, kebenaran telah hilang, dan hanya menyisakan perkataan dan ucapan tanpa data yang merajalela.

Kedudukan Mahasiswa di Mata Negara

Tahukah Anda bahwa seorang mahasiswa mendapat posisi atau kedudukan yang luar biasa di mata negara. Sehingga, pada hakikatnya, mahasiswa bukan sekadar peserta didik yang terdaftar belajar di perguruan tinggi dan namanya terpampang dalam PDDIKTI. Mahasiswa adalah anak bangsa yang diharapkan dapat berkontribusi dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa. Kita bisa merujuk Pasal 13 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi terkait kedudukan mahasiswa ini. Oleh karena itu, jangan sekali-kali bagi kita yang merasa dirinya mahasiswa untuk mengecewakan dan/atau mendegradasi diri melalui perilaku-perilaku yang sekiranya akan merendahkan martabat kita sendiri.

Pasal 13

(1)   Mahasiswa sebagai anggota Sivitas Akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

(2)   Mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara aktif mengembangkan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan/atau penguasaan, pengembangan, dan pengamalan suatu cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk menjadi ilmuwan, intelektual, praktisi, dan/atau profesional yang berbudaya.

(3)   Mahasiswa memiliki kebebasan akademik dengan mengutamakan penalaran dan akhlak mulia serta bertanggung jawab sesuai dengan budaya akademik.

Pakar dan Tidak, Bagaimana Cara Membedakannya?

Kalau berbicara dalam konteks hari ini, kita sering menyaksikan tayangan-tayangan diskusi di televisi mainstream Indonesia. Isu yang sering...