Senin, 02 November 2026

Rendahnya Kualitas Guru di Indonesia: Apa Sebabnya?

Melihat fenomena distribusi, terutama kompetensi guru dari hari ke hari yang semakin dramatis-dilematis, seakan peredaran beritanya tak akan habis-habis, hingga saya terpikir bahwa, barangkali rendahnya kualitas guru Indonesia itu disebabkan oleh sistem penerimaan calon pendidik yang terlalu liar dan ugal-ugalan di perguruan tinggi. Kita tahu bahwa rekrutmen calon mahasiswa baru di Fakultas Tarbiyah, FKIP dan semisalnya yang notabene mahasiswa akan diarahkan untuk menjadi calon guru di masa mendatang, ini terkesan digampangkan, dan juga tidak terlalu ketat. Sehingga distribusi mahasiswa calon guru di Indonesia, terkadang tidak ideal, dan bahkan seolah dipaksakan, di tengah kondisi ruang kelas atau daya tampung mahasiswa yang tidak mencukupi. Hal ini mengindikasikan standar penerimaan mahasiswa calon guru relatif rendah.

Selain itu, yang paling mengkhawatirkan, jika sistem perkuliahan dilakukan dengan model-model konvensional yang terkadang kurang memberikan perlakuan positif terhadap daya intelektual dan emosional mahasiswa untuk membangun kebermaknaan proses pembelajaran. Ditambah lagi standar evaluasi atau mutu lulusan yang juga cenderung tidak memadai, akan memperburuk citra, bahkan outcome profesionalisme dan kompetensi dari seorang calon guru. Coba kita bandingkan dengan sekolah-sekolah kedinasan yang notabene standar penerimaan hingga kelulusan para mahasiswanya sangat tinggi. Sehingga calon-calon abdi negara pasca pendidikan, bisa merepresentasikan dirinya sebagai manusia dengan tingkat kredibilitas dan keterandalan yang tinggi juga. Oleh sebab itu, wajar sekali apa yang dikatakan oleh Nugroho (2025), bahwa masih ada harapan besar agar kampus keguruan dan ilmu pendidikan, dialih-statuskan menjadi ikatan dinas dengan standar masuk yang tinggi. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Setujukah jika kampus-kampus pendidikan dialih-statuskan menjadi ikatan dinas? Silakan berikan respon di komen ya!

Apa Bedanya Satuan Pendidikan, Lembaga Pendidikan, Instansi Pendidikan dan Institusi Pendidikan?

Bagi kita yang berprofesi sebagai pendidik, pengamat pendidikan, pembelajar dan umumnya masyarakat, tentu tidak asing, bahkan sering menemukan penggunaan istilah satuan pendidikan, lembaga pendidikan, instansi pendidikan dan institusi pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pernahkah kita berpikir dan memperhatikan dengan seksama, bahwa terkadang istilah-istilah tersebut digunakan pada sebuah narasi yang sama dan secara bersamaan, seolah antara istilah yang satu dengan lainnya bermakna sama. Contoh kecilnya, bisa perhatikan tabel berikut ini.

Istilah

Penggunaan

Satuan Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Satuan Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Lembaga Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Lembaga Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Instansi Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Instansi Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Institusi Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Institusi Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

 

Jika kita cek pengertian istilah-istilah tersebut menurut LLM, berikut uraiannya.

Istilah

Definisi

Satuan Pendidikan

Pengertian: Unit pelaksana teknis yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Fokus: Bentuk operasional paling konkret atau wadah fisik/unit penyelenggara di lapangan.

Contoh: SD Negeri 1, SMP Swasta tertentu, Kelompok Bermain (PAUD), atau Lembaga Kursus Bahasa Inggris.

Lembaga Pendidikan

Pengertian: Organisasi atau badan usaha (baik formal maupun nonformal) yang menaungi atau menyelenggarakan proses pendidikan.

Fokus: Sistem, organisasi, atau wadah sosial yang mempunyai pengurus, aturan, dan tujuan untuk melakukan transfer ilmu.

Contoh: Yayasan pendidikan yang mengelola beberapa sekolah, pesantren, atau majelis taklim.

Instansi Pendidikan

Pengertian: Organisasi fungsional atau kantor resmi yang menjalankan tugas pelayanan publik dan administratif di bidang pendidikan.

Fokus: Aspek administratif, birokrasi, kepengurusan, dan pelayanan kedinasan yang diatur oleh pemerintah atau badan hukum.

Contoh: Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Institusi Pendidikan

Pengertian: Secara kebahasaan (menurut KBBI), institusi bersinonim persis dengan lembaga, yakni pranata atau badan yang dilembagakan oleh undang-undang atau norma sosial.

Fokus: Sistem nilai, norma, aturan, sekaligus badan atau organisasi resmi yang menyelenggarakan pendidikan secara makro.

Contoh: Universitas, akademi, atau sekolah tinggi sebagai suatu sistem norma dan wadah pencetak keahlian.

 

Berdasarkan uraian tersebut, nyatanya masing-masing istilah tersebut memiliki makna dan pengertian yang berbeda, walau demikian terkadang penggunaan istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari digunakan pada objek atau kasus yang sama, dan memang antara istilah yang satu dengan lainnya itu saling terkait.

Senin, 19 Oktober 2026

Pakar dan Tidak, Bagaimana Cara Membedakannya?

Kalau berbicara dalam konteks hari ini, kita sering menyaksikan tayangan-tayangan diskusi di televisi mainstream Indonesia. Isu yang sering dibahas tentunya tidak akan lepas dari tema yang sedang hangat terjadi atau dibicarakan. Beragam narasumber diundang dengan segala bidang dan latar belakang keahlian masing-masing turut mewarnai dinamika diskusi yang diperbincangkan tersebut. Tentu saja dialektika yang dibangun semacam itu, akan mengundang minat sejumlah audiens dan masyarakat luas guna mendapatkan informasi yang edukatif dan mencerahkan. Tetapi yang disesalkan beberapa media mainstream hari ini seakan sudah mulai banyak mengundang narasumber yang tidak lagi mempertimbangkan kompetensi di bidangnya. Atau sengaja menyandingkan narasumber yang pakar dan yang tidak, dalam satu panggung diskusi.

Persoalan tersebut menjadi keprihatinan yang saya rasakan dan mungkin dirasakan juga oleh semua kalangan masyarakat akademis di manapun. Media mainstream yang seharusnya bangga menyiarkan dan menampilkan narasumber yang kompeten di bidangnya, hari ini seakan direndahkan dengan disandingkannya narasumber (saya menyebutnya oknum-oknum) yang dipertanyakan kepakarannya sehingga mengundang kontroversi. Dan pada akhirnya, perdebatan pun menjadi tidak ilmiah dan sama sekali tidak mencerminkan seorang pembicara yang patut diteladani masyarakat. Seorang narasumber yang tidak pakar, tidak layak dijadikan panutan bersama, apalagi jika sudah mengabaikan nilai-nilai etika publik. Biasanya apa yang dikatakan narasumber dengan model-model inkompetensi seperti itu, hanya memberikan kesan di permukaan, tanpa makna sungguhan. Dan hebatnya lagi, terkadang oknum-oknum seperti itu sangat pandai berlindung dalam kemasan yang meyakinkan orang untuk menutupi ketidakpakarannya itu. Tetapi, semoga saja dugaan saya salah.

Ya sudahlah, saya tutup saja keprihatinan ini dengan sebuah peribahasa yang mengatakan “air beriak tanda tak dalam”. Makna dari peribahasa tersebut sebagaimana kita ketahui yaitu orang yang banyak bicara, sombong, atau suka pamer, biasanya tidak banyak ilmu atau pengetahuannya sangat dangkal. Semoga bermanfaat!

Rendahnya Kualitas Guru di Indonesia: Apa Sebabnya?

Melihat fenomena distribusi, terutama kompetensi guru dari hari ke hari yang semakin dramatis-dilematis, seakan peredaran beritanya tak akan...