Bagi kalangan guru,
tenaga kependidikan dan semua sivitas akademika pada lingkungan Kementerian
Agama, tentu tidak asing lagi dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Lantas apa
dan bagaimana sebenarnya kurikulum ini? Secara formil, kita bisa merujuk
tinjauan secara konseptual terhadap KBC ini melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 Tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
Namun untuk lebih mudah
memahami konsep dasarnya, kita bisa mengacu pada paparan Direktur KSKK terkait
dengan skema kerja KBC ini. Direktur
KSKK (Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan) Madrasah di bawah
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI saat ini dijabat oleh
Prof. Dr. Hj. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si.
Dilansir dari channel
YouTube Direktorat KSKK Madrasah, Direktur KSKK, mengatakan bahwa KBC ini bukan
sekadar kurikulum, melainkan sebuah gebrakan perubahan pendidikan. Sebuah
pendekatan yang menempatkan hati dan nilai kasih sebagai inti dari pelajaran.
Ada 3 indikator utama
yang menjadi penanda keberhasilan implementasi KBC. Pertama, madrasah ramah
lingkungan. Lingkungan belajar yang lestari, bersih dan rapi adalah cermin
keimanan. Madrasah harus menjadi ruang yang menghargai ciptaan Allah SWT. Kita
dorong praktik ramah lingkungan dari kebijakan hingga tindakan sehari-hari.
Mengelola sampah, menanam pohon, dan membangun budaya hemat energi. Anak-anak
diajarkan bahwa mencintai lingkungan bukan sekadar tugas, tetapi bagian dari
ibadah dan rasa syukur.
Kedua, madrasah ramah
anak. Madrasah harus menjadi rumah kedua yang aman dan penuh kasih. Tidak boleh
ada tempat bagi kekerasan, perundungan, atau diskriminasi. Kita bangun ruang
belajar yang inklusif dan toleran. Tempat setiap anak merasa diterima, dihargai
dan punya hak yang sama untuk tumbuh. Kita ajarkan empati, saling menghormati,
dan menjalin relasi sehat dalam keberagaman.
Ketiga, peserta didik sejahtera secara mental dan spiritual. Anak-anak madrasah tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat jiwanya, kuat emosinya dan matang spiritualnya. Melalui pendekatan social emotional learning, kita saling bantu mereka mengelola emosi, membangun ketangguhan, dan menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan zaman. Madrasah juga menyediakan layanan konseling dan ruang aman untuk peserta didik. Karena kita meyakini bahwa pendidikan yang menyentuh hati akan melahirkan generasi yang peduli dan berdaya. Ketika ketiga indikator ini berjalan, maka madrasah akan benar-benar menjadi tempat yang menyemai cinta, membangun peradaban dan menumbuhkan generasi tangguh menuju Indonesia Emas 2045.
Mari kita wujudkan madrasah yang ramah lingkungan, ramah anak dan
mensejahterakan jiwa. Karena cinta bukan hanya diajarkan, tetapi dihadirkan
melalui sikap, ruang dan keteladanan.