Mungkin Anda pernah,
atau bahkan sering menyaksikan sebagian kalangan akademisi kita berbicara di
luar bidang keahliannya?! Yup, terkadang ini sangat menjengkelkan, apalagi
pembicaraan mereka ditayangkan di acara TV swasta yang bereputasi nasional dan
banyak masyarakat menyaksikan.
Contoh saja, ada
seorang dosen bergelar doktor di bidang pertanian, dia mencoba memberikan
kritik terhadap kinerja seorang guru (bahkan celaan, bukan kritik). Pada
dasarnya, kritik itu boleh saja, dari mana dan siapapun juga. Namun, karena
setiap orang itu memiliki daya berpikir dan bernalar yang beragam, dan umumnya
lebih menyesuaikan dengan keahlian masing-masing, tidak jarang akan terjerembab
ke dalam kekeliruan yang fatal tanpa disadari, terlebih jika berani berbicara
di luar bidangnya secara serampangan. Dan apa yang dilakukan oleh dosen bidang
pertanian tersebut memang sudah keluar jauh dari cermin keahlian yang
bersangkutan di saat berbicara persoalan keguruan. Sehingga dia telah berani
mengatakan sesuatu di luar kemampuannya.
Menurut hemat saya, seorang
dosen bidang pertanian yang berani tampil seperti itu, secara profesional tidak
layak memberikan penilaian dan evaluasi mendalam terhadap kinerja guru yang
notabene keahliannya sangat berbeda, dan juga tidak patut dirujuk ucapannya. Harus
diingat, bahwa rumpun ilmu pendidikan dan keguruan, serta pertanian ada sederet
pihak (instansi tersendiri) yang menaungi penilaian kinerja masing-masing
bidang tersebut. Semua itu harus berjalan profesional dan proporsional, walaupun
tidak dapat dipungkiri bahwa pada titik tertentu, kedua rumpun ilmu ini bisa
saling berkaitan, melengkapi satu sama lain, namun tidak dengan basis
keilmuannya secara umum dan mendasar, terlebih jika pelakunya secara nyata telah
melanggar batas-batas kepaputan.
Oleh karena itu,
marilah kita belajar untuk selalu fokus pada bidang garapan masing-masing, agar
disiplin ilmu kita dapat berkembang pesat dan berkemajuan secara nyata. Bukan
saling mendegradasi secara tidak tepat antar bidang keilmuan, yang sering kali
menimbulkan kontradiksi yang tidak sehat, dan berujung pada percekcokan yang
juga kurang bermanfaat. Ingatlah, bahwa kebebasan berpendapat dan berpikir itu
bukan berarti seenaknya berbicara tanpa data, tetapi kebebasan yang bisa
dipertanggungjawabkan. Problem inti dari semua itu mungkin saja sudah mengakar,
yang dalam kenyataan hari ini kita mengenalnya dengan fenomena matinya kepakaran.