Tahukah
Anda bahwa model pembelajaran konvensional di perguruan tinggi, yang belakangan
ini ramai dipersoalkan, bahkan oleh kalangan mahasiswa itu sendiri, telah
menjadi kecaman serius dan tren yang krusial untuk direkonstruksi bersama. Alasan
utama di balik masalah tersebut adalah keefektifan model pembelajaran
konvensioal, seperti presentasi, penugasan dan semisalnya, yang dipandang sudah
tidak relevan dan bahkan berdampak buruk bagi daya intelegensi, terutama minat
belajar/kuliah mahasiswa itu sendiri, terlebih di era kecerdasan buatan (AI)
hari ini. Di antara klaim yang beredar tersebut, bisa Anda perhatikan paragraf
berikut ini.
“...skema perkuliahan
ini harus segera dihapus. Di setiap pertemuan kita mendengarkan presentasi
teman-teman. Tentu ini menurut saya tidak etis. Kita sebagai mahasiswa yang
seharusnya mendapatkan ilmu dari dosen, malah mahasiswa lain yang menjelaskan
ilmunya kepada kita. Padahal kita belum dapat konsep dasar ilmu yang mestinya
disampaikan oleh dosen itu sendiri. Jika hanya mengandalkan mahasiswa yang
presentasi, itu ibarat kata kita diarahkan oleh orang yang tidak terarah.
Sehingga saya kira, percuma aja bayar UKT mahal-mahal kalau cuma denger ocehan
temen presentasi, yang kadang isi dan jawaba diskusi nya mengandalkan AI.”
Sebenarnya
klaim tersebut ada benarnya, namun jika kita kaji dengan pertimbagan keilmuan yang
lebih mendalam, nyatanya model pembelajaran konvensional tersebut sebetulnya tidak
serta-merta berdampak buruk terhadap daya intelegensi atau bahkan minat belajar
mahasiswa, asalkan kita bisa menganalisis perlakukan model pembelajaran sesuai
kebutuhan. Selengkapnya Anda bisa baca hasil mini riset kami yang berjudul, “Retrospeksi Model Pembelajaran Konvensional: Analisis Minat Belajar Mahasiswa Gen Z”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar