Ada seseorang berinisial SS mempersoalkan pernyataan
RH yang dinilai tidak konsisten atau sering berubah, bahkan apa yang dikatakan
sering dibantah oleh dirinya sendiri. Kemudian datanglah NV yang menjawab
pendapat SS, lalu dia bilang ilmu itu berkembang terus ya, banyak bermunculan
hipotesis ini dan itu. Ini kan baru datang dari satu orang, data dari orang
lainnya belum.
Mari kita sedikit analisis... Pada kasus di atas,
esensi yang bisa saya tangkap secara sederhana adalah adanya bantahan seseorang
terhadap pernyataan yang menurutnya inkonsistensi. Kita mengetahui bahwa dalam
konteks keilmuan, inkonsistensi atau plin plan-nya seseorang saat membicarakan
sesuatu dinilai sebagai argumentasi yang lemah dan tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Secara umum, saya kira, orang-orang akan
setuju. Namun, secara kasuistik, justru "inkonsistensi" ini adalah
representasi dari dinamika perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat
sekali dalam kehidupan ini. Oleh karena itu saya sependapat dengan
bantahan NV terhadap SS, yang mengatakan bahwa "ilmu berkembang
terus...".
Perkembangan ilmu yang terjadi atas segala dinamika
perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Sehingga tidak
berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa "tidak ada yang berubah di
dunia ini kecuali perubahan, ia akan tetap dengan jati dirinya yaitu selalu
berubah (dinamis)". Oleh karena itu jika ada sebuah
"inkonsistensi" yang didapati dalam sebuah fenomena kehidupan, jika
dilihat dari konteks keilmuan, belum tentu itu merupakan kekeliruan (plin
plan), melainkan bagian dari sebuah proses kehidupan yang secara alamiah selalu
berubah. Berdasarkan hal tersebut, kita sebagai masyarakat akademis dituntut
bijak dalam menilai sesuatu, tidak boleh mudah menyalahkan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar