Senin, 02 November 2026

SDGs 4

SDGs 4 atau Sustainable Development Goals 4, adalah tujuan pembangunan berkelanjutan dengan orientasi konseptual yang berfokus pada pendidikan berkualitas (quality education).

KONSEP DASAR

Memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Pendidikan membebaskan intelektual, membuka imajinasi, dan merupakan hal mendasar bagi harga diri. Pendidikan adalah kunci menuju kemakmuran dan membuka dunia peluang, memungkinkan setiap kita untuk berkontribusi pada masyarakat yang progresif dan sehat. Pembelajaran bermanfaat bagi setiap manusia dan harus tersedia untuk semua.

 

TARGET-TARGET

Target 4.1 Pendidikan Dasar dan Menengah Gratis

Pada tahun 2030, pastikan bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah yang gratis, setara, dan berkualitas yang menghasilkan hasil pembelajaran yang relevan dan efektif.

Target 4.2 Akses yang sama terhadap Pendidikan Pra-Sekolah Berkualitas

Pada tahun 2030, pastikan bahwa semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses ke pengembangan, perawatan, dan pendidikan pra-sekolah dasar yang berkualitas sehingga mereka siap untuk pendidikan dasar.

Target 4.3 Akses yang sama terhadap Pendidikan Teknik, Kejuruan, dan Pendidikan Tinggi yang Terjangkau

Pada tahun 2030, pastikan akses yang setara bagi semua perempuan dan laki-laki terhadap pendidikan teknik, kejuruan, dan pendidikan tinggi yang terjangkau dan berkualitas, termasuk universitas.

Target 4.4 Meningkatkan Jumlah Orang dengan Keterampilan yang Relevan untuk Kesuksesan Finansial

Pada tahun 2030, secara signifikan meningkatkan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, untuk lapangan kerja, pekerjaan layak, dan kewirausahaan.

Target 4.5 Hapus Semua Diskriminasi dalam Pendidikan

Pada tahun 2030, hilangkan kesenjangan gender dalam pendidikan dan pastikan akses yang sama ke semua tingkatan pendidikan dan pelatihan kejuruan bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan anak-anak dalam situasi rentan.

Traget 4.6 Literasi dan Numerasi Universal

Pada tahun 2030, pastikan bahwa semua pemuda dan sebagian besar orang dewasa, baik pria maupun wanita, mencapai kemampuan membaca dan berhitung.

Target 4.7 Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Kewarganegaraan Global

Pada tahun 2030, pastikan bahwa semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan, termasuk, antara lain, melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya perdamaian dan tanpa kekerasan, kewarganegaraan global, serta apresiasi terhadap keragaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Target 4.8 Membangun dan Meningkatkan Kualitas Sekolah yang Inklusif dan Aman

Membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang peka terhadap anak, disabilitas, dan gender, serta menyediakan lingkungan belajar yang aman, tanpa kekerasan, inklusif, dan efektif untuk semua.

Target 4.9 Memperluas Beasiswa Pendidikan Tinggi untuk Negara Berkembang

Pada tahun 2020, secara substansial memperluas jumlah beasiswa yang tersedia secara global untuk negara-negara berkembang, khususnya negara-negara kurang berkembang, negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang, dan negara-negara Afrika, untuk pendaftaran di pendidikan tinggi, termasuk pelatihan kejuruan dan teknologi informasi dan komunikasi, program teknik, rekayasa, dan sains, di negara-negara maju dan negara-negara berkembang lainnya.

Target 4.10 Meningkatkan Pasokan Guru Berkualifikasi di Negara-negara Berkembang

Pada tahun 2030, secara substansial meningkatkan pasokan guru yang berkualitas, termasuk melalui kerja sama internasional untuk pelatihan guru di negara-negara berkembang, terutama negara-negara kurang berkembang dan negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang.

Rendahnya Kualitas Guru di Indonesia: Apa Sebabnya?

Melihat fenomena distribusi, terutama kompetensi guru dari hari ke hari yang semakin dramatis-dilematis, seakan peredaran beritanya tak akan habis-habis, hingga saya terpikir bahwa, barangkali rendahnya kualitas guru Indonesia itu disebabkan oleh sistem penerimaan calon pendidik yang terlalu liar dan ugal-ugalan di perguruan tinggi. Kita tahu bahwa rekrutmen calon mahasiswa baru di Fakultas Tarbiyah, FKIP dan semisalnya yang notabene mahasiswa akan diarahkan untuk menjadi calon guru di masa mendatang, ini terkesan digampangkan, dan juga tidak terlalu ketat. Sehingga distribusi mahasiswa calon guru di Indonesia, terkadang tidak ideal, dan bahkan seolah dipaksakan, di tengah kondisi ruang kelas atau daya tampung mahasiswa yang tidak mencukupi. Hal ini mengindikasikan standar penerimaan mahasiswa calon guru relatif rendah.

Selain itu, yang paling mengkhawatirkan, jika sistem perkuliahan dilakukan dengan model-model konvensional yang terkadang kurang memberikan perlakuan positif terhadap daya intelektual dan emosional mahasiswa untuk membangun kebermaknaan proses pembelajaran. Ditambah lagi standar evaluasi atau mutu lulusan yang juga cenderung tidak memadai, akan memperburuk citra, bahkan outcome profesionalisme dan kompetensi dari seorang calon guru. Coba kita bandingkan dengan sekolah-sekolah kedinasan yang notabene standar penerimaan hingga kelulusan para mahasiswanya sangat tinggi. Sehingga calon-calon abdi negara pasca pendidikan, bisa merepresentasikan dirinya sebagai manusia dengan tingkat kredibilitas dan keterandalan yang tinggi juga. Oleh sebab itu, wajar sekali apa yang dikatakan oleh Nugroho (2025), bahwa masih ada harapan besar agar kampus keguruan dan ilmu pendidikan, dialih-statuskan menjadi ikatan dinas dengan standar masuk yang tinggi. Lalu, bagaimana pendapat Anda? Setujukah jika kampus-kampus pendidikan dialih-statuskan menjadi ikatan dinas? Silakan berikan respon di komen ya!

Apa Bedanya Satuan Pendidikan, Lembaga Pendidikan, Instansi Pendidikan dan Institusi Pendidikan?

Bagi kita yang berprofesi sebagai pendidik, pengamat pendidikan, pembelajar dan umumnya masyarakat, tentu tidak asing, bahkan sering menemukan penggunaan istilah satuan pendidikan, lembaga pendidikan, instansi pendidikan dan institusi pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, pernahkah kita berpikir dan memperhatikan dengan seksama, bahwa terkadang istilah-istilah tersebut digunakan pada sebuah narasi yang sama dan secara bersamaan, seolah antara istilah yang satu dengan lainnya bermakna sama. Contoh kecilnya, bisa perhatikan tabel berikut ini.

Istilah

Penggunaan

Satuan Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Satuan Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Lembaga Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Lembaga Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Instansi Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Instansi Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Institusi Pendidikan

Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab secara profesional dalam memberdayakan Institusi Pendidikan demi terwujudnya mutu pendidikan secara berkelanjutan.

 

Jika kita cek pengertian istilah-istilah tersebut menurut LLM, berikut uraiannya.

Istilah

Definisi

Satuan Pendidikan

Pengertian: Unit pelaksana teknis yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Fokus: Bentuk operasional paling konkret atau wadah fisik/unit penyelenggara di lapangan.

Contoh: SD Negeri 1, SMP Swasta tertentu, Kelompok Bermain (PAUD), atau Lembaga Kursus Bahasa Inggris.

Lembaga Pendidikan

Pengertian: Organisasi atau badan usaha (baik formal maupun nonformal) yang menaungi atau menyelenggarakan proses pendidikan.

Fokus: Sistem, organisasi, atau wadah sosial yang mempunyai pengurus, aturan, dan tujuan untuk melakukan transfer ilmu.

Contoh: Yayasan pendidikan yang mengelola beberapa sekolah, pesantren, atau majelis taklim.

Instansi Pendidikan

Pengertian: Organisasi fungsional atau kantor resmi yang menjalankan tugas pelayanan publik dan administratif di bidang pendidikan.

Fokus: Aspek administratif, birokrasi, kepengurusan, dan pelayanan kedinasan yang diatur oleh pemerintah atau badan hukum.

Contoh: Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Institusi Pendidikan

Pengertian: Secara kebahasaan (menurut KBBI), institusi bersinonim persis dengan lembaga, yakni pranata atau badan yang dilembagakan oleh undang-undang atau norma sosial.

Fokus: Sistem nilai, norma, aturan, sekaligus badan atau organisasi resmi yang menyelenggarakan pendidikan secara makro.

Contoh: Universitas, akademi, atau sekolah tinggi sebagai suatu sistem norma dan wadah pencetak keahlian.

 

Berdasarkan uraian tersebut, nyatanya masing-masing istilah tersebut memiliki makna dan pengertian yang berbeda, walau demikian terkadang penggunaan istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari digunakan pada objek atau kasus yang sama, dan memang antara istilah yang satu dengan lainnya itu saling terkait.

Senin, 19 Oktober 2026

Pakar dan Tidak, Bagaimana Cara Membedakannya?

Kalau berbicara dalam konteks hari ini, kita sering menyaksikan tayangan-tayangan diskusi di televisi mainstream Indonesia. Isu yang sering dibahas tentunya tidak akan lepas dari tema yang sedang hangat terjadi atau dibicarakan. Beragam narasumber diundang dengan segala bidang dan latar belakang keahlian masing-masing turut mewarnai dinamika diskusi yang diperbincangkan tersebut. Tentu saja dialektika yang dibangun semacam itu, akan mengundang minat sejumlah audiens dan masyarakat luas guna mendapatkan informasi yang edukatif dan mencerahkan. Tetapi yang disesalkan beberapa media mainstream hari ini seakan sudah mulai banyak mengundang narasumber yang tidak lagi mempertimbangkan kompetensi di bidangnya. Atau sengaja menyandingkan narasumber yang pakar dan yang tidak, dalam satu panggung diskusi.

Persoalan tersebut menjadi keprihatinan yang saya rasakan dan mungkin dirasakan juga oleh semua kalangan masyarakat akademis di manapun. Media mainstream yang seharusnya bangga menyiarkan dan menampilkan narasumber yang kompeten di bidangnya, hari ini seakan direndahkan dengan disandingkannya narasumber (saya menyebutnya oknum-oknum) yang dipertanyakan kepakarannya sehingga mengundang kontroversi. Dan pada akhirnya, perdebatan pun menjadi tidak ilmiah dan sama sekali tidak mencerminkan seorang pembicara yang patut diteladani masyarakat. Seorang narasumber yang tidak pakar, tidak layak dijadikan panutan bersama, apalagi jika sudah mengabaikan nilai-nilai etika publik. Biasanya apa yang dikatakan narasumber dengan model-model inkompetensi seperti itu, hanya memberikan kesan di permukaan, tanpa makna sungguhan. Dan hebatnya lagi, terkadang oknum-oknum seperti itu sangat pandai berlindung dalam kemasan yang meyakinkan orang untuk menutupi ketidakpakarannya itu. Tetapi, semoga saja dugaan saya salah.

Ya sudahlah, saya tutup saja keprihatinan ini dengan sebuah peribahasa yang mengatakan “air beriak tanda tak dalam”. Makna dari peribahasa tersebut sebagaimana kita ketahui yaitu orang yang banyak bicara, sombong, atau suka pamer, biasanya tidak banyak ilmu atau pengetahuannya sangat dangkal. Semoga bermanfaat!

Matinya Kepakaran! Dunia Mulai Terbalik?

Andri Irawan - Di saat orang yang benar-benar pakar di bidangnya, seakan dianggap “banyak bicara tanpa makna.” Di saat orang yang ilmunya sangat dangkal, namun lihai berdebat dengan memainkan kata-kata dengan penuh propaganda, terkadang memutarbalikkan fakta, sehingga perkataannya seakan “dipercaya banyak manusia”. Maka pada saat itulah cahaya ilmu benar-benar telah redup, kebenaran telah hilang, dan hanya menyisakan perkataan dan ucapan tanpa data yang merajalela.

Kedudukan Mahasiswa di Mata Negara

Tahukah Anda bahwa seorang mahasiswa mendapat posisi atau kedudukan yang luar biasa di mata negara. Sehingga, pada hakikatnya, mahasiswa bukan sekadar peserta didik yang terdaftar belajar di perguruan tinggi dan namanya terpampang dalam PDDIKTI. Mahasiswa adalah anak bangsa yang diharapkan dapat berkontribusi dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa. Kita bisa merujuk Pasal 13 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi terkait kedudukan mahasiswa ini. Oleh karena itu, jangan sekali-kali bagi kita yang merasa dirinya mahasiswa untuk mengecewakan dan/atau mendegradasi diri melalui perilaku-perilaku yang sekiranya akan merendahkan martabat kita sendiri.

Pasal 13

(1)   Mahasiswa sebagai anggota Sivitas Akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

(2)   Mahasiswa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara aktif mengembangkan potensinya dengan melakukan pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, dan/atau penguasaan, pengembangan, dan pengamalan suatu cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk menjadi ilmuwan, intelektual, praktisi, dan/atau profesional yang berbudaya.

(3)   Mahasiswa memiliki kebebasan akademik dengan mengutamakan penalaran dan akhlak mulia serta bertanggung jawab sesuai dengan budaya akademik.

Minggu, 18 Oktober 2026

Model Perkuliahan Mahasiswa dengan Presentasi: Seberapa Efektif?

Tahukah Anda bahwa model pembelajaran konvensional di perguruan tinggi, yang belakangan ini ramai dipersoalkan, bahkan oleh kalangan mahasiswa itu sendiri, telah menjadi kecaman serius dan tren yang krusial untuk direkonstruksi bersama. Alasan utama di balik masalah tersebut adalah keefektifan model pembelajaran konvensioal, seperti presentasi, penugasan dan semisalnya, yang dipandang sudah tidak relevan dan bahkan berdampak buruk bagi daya intelegensi, terutama minat belajar/kuliah mahasiswa itu sendiri, terlebih di era kecerdasan buatan (AI) hari ini. Di antara klaim yang beredar tersebut, bisa Anda perhatikan paragraf berikut ini.

“...skema perkuliahan ini harus segera dihapus. Di setiap pertemuan kita mendengarkan presentasi teman-teman. Tentu ini menurut saya tidak etis. Kita sebagai mahasiswa yang seharusnya mendapatkan ilmu dari dosen, malah mahasiswa lain yang menjelaskan ilmunya kepada kita. Padahal kita belum dapat konsep dasar ilmu yang mestinya disampaikan oleh dosen itu sendiri. Jika hanya mengandalkan mahasiswa yang presentasi, itu ibarat kata kita diarahkan oleh orang yang tidak terarah. Sehingga saya kira, percuma aja bayar UKT mahal-mahal kalau cuma denger ocehan temen presentasi, yang kadang isi dan jawaba diskusi nya mengandalkan AI.”

Sebenarnya klaim tersebut ada benarnya, namun jika kita kaji dengan pertimbagan keilmuan yang lebih mendalam, nyatanya model pembelajaran konvensional tersebut sebetulnya tidak serta-merta berdampak buruk terhadap daya intelegensi atau bahkan minat belajar mahasiswa, asalkan kita bisa menganalisis perlakukan model pembelajaran sesuai kebutuhan. Selengkapnya Anda bisa baca hasil mini riset kami yang berjudul, “Retrospeksi Model Pembelajaran Konvensional: Analisis Minat Belajar Mahasiswa Gen Z”.

Ahli, Pakar, Akademisi, Ilmuwan, Cendekiawan dan Intelektual: Apa Bedanya?

 Jika kita periksa di KBBI, pengertiannya sebagai berikut.

Istilah

Definisi

Ahli

Orang yang mahir, paham sekali dalam suatu ilmu (kepandaian).

Pakar

Orang yang ahli atau spesialis.

Akademisi

Orang yang berpendidikan tinggi.

Ilmuwan

Orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu/berkecimpung dalam ilmu pengetahuan.

Cendekiawan

Orang cerdik pandai, memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu.

Intelektual

Cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, mempunyai kecerdasan tinggi, totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman.

 

Sebagai bahan komparasi, berikut adalah pengertian menurut LLM.

Istilah

Definisi

Ahli

Orang yang memiliki kemahiran, keterampilan, atau pengetahuan spesifik di suatu bidang secara praktis maupun teoritis.

Pakar

Seseorang yang diakui secara luas memiliki otoritas dan pengalaman sangat mendalam di bidang tertentu.

Akademisi

Orang yang berprofesi dan beraktivitas di lingkungan perguruan tinggi/lembaga pendidikan tinggi.

Ilmuwan

Orang yang secara aktif melakukan penelitian sistematis menggunakan metode ilmiah (scientific method).

Cendekiawan

Orang terpelajar yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kearifan moral dan pencerahan batin.

Intelektual

Orang berpendidikan yang menggunakan daya pikir kritisnya untuk merespons dan mengkritik isu-isu sosial-politik.

 

Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas: Apa Bedanya?

Ketentuan Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Sisdiknas menyebutkan bahwa lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dikenal dengan beberapa bentuk/istilah, yaitu Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut dan Universitas. Apakah nama-nama tersebut memiliki makna yang sama, atau sekadar berbeda nomenklatur saja? Mari kita kaji bersama pengertian istilah-istilah tersebut.

Jika dilihat pengertian keempat istilah tersebut menurut KBBI antara lain sebagai berikut.

Istilah

Definisi

Akademi

1)     Lembaga pendidikan tinggi;

2)     Perkumpulan orang terkenal yang dianggap arif bijaksana untuk memajukan ilmu, kesusastraan, atau bahasa.

Politeknik

Hal-hal yang berkaitan dengan pengajaran keterampilan dan ilmu-ilmu terapan.

Sekolah Tinggi

Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau pendidikan profesional dalam satu disiplin ilmu tertentu.

Institut

1)     Organisasi, badan, atau perkumpulan yang bertujuan melakukan suatu penyelidikan ilmiah;

2)     Organisasi, badan, atau perkumpulan yang bertujuan menyelenggarakan usaha pendidikan, kebudayaan, sosial, persahabatan (antarbangsa), rehabilitasi, dan sebagainya.

Universitas

Perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan/atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.

 

Sebagai bahan komparasi, berikut adalah pengertian menurut LLM.

Istilah

Definisi

Akademi

Cakupan Ilmu: Sangat spesifik dan terbatas hanya pada satu cabang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni tertentu.

Jenis Pendidikan: Hanya menyelenggarakan pendidikan vokasi, umumnya terbatas pada jenjang Diploma III (D3) atau setara untuk mencetak tenaga profesional siap kerja di bidang spesifik tersebut.

Contoh: Akademi Kepolisian (Akpol), Akademi Militer (Akmil), Akademi Keperawatan (Akper).

Politeknik

Cakupan Ilmu: Menawarkan berbagai program studi dari berbagai bidang (teknis maupun non-teknis), tetapi seluruhnya dikemas dalam keilmuan terapan.

Jenis Pendidikan: Hanya fokus pada pendidikan vokasi (Diploma 1 sampai Diploma 4/Sarjana Terapan hingga Magister Terapan) dengan porsi praktik yang jauh lebih besar daripada teori (sekitar 70% praktik, 30% teori).

Contoh: Politeknik Negeri Bandung (Polban), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Sekolah Tinggi

Cakupan Ilmu: Lebih spesifik karena biasanya hanya terdiri dari satu fakultas atau bagian dari satu bidang ilmu tertentu yang memiliki beberapa jurusan/program studi terkait.

Jenis Pendidikan: Bisa menyelenggarakan pendidikan akademik, vokasi, maupun profesi.

Contoh: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Sekolah Tinggi Pariwisata (STP).

Institut

Cakupan Ilmu: Fokus pada satu atau beberapa rumpun ilmu yang sejenis (tidak seluas universitas).

Jenis Pendidikan: Menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam satu kelompok keilmuan tertentu (misalnya teknologi, seni, atau agama).

Contoh: Institut Teknologi Bandung (ITB - sains/teknologi), Institut Seni Indonesia (ISI - seni), Institut Pertanian Bogor (IPB).

Universitas

Cakupan Ilmu: Sangat luas dan terdiri dari banyak fakultas yang mencakup berbagai rumpun ilmu (seperti sains, teknologi, sosial, humaniora, ekonomi, hingga kesehatan).

Jenis Pendidikan: Menyelenggarakan pendidikan akademik (S1, S2, S3), vokasi (Diploma), serta profesi.

Contoh: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Sustainable Development Goals (SDGs)

17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB untuk dicapai pada 2030 mencakup komponen sebagai berikut:

1.         Tanpa Kemiskinan

2.         Tanpa Kelaparan

3.         Kehidupan Sehat dan Sejahtera

4.         Pendidikan Berkualitas

5.         Kesetaraan Gender

6.         Air Bersih dan Sanitasi Layak

7.         Energi Bersih dan Terjangkau

8.         Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

9.         Industri, Inovasi, dan Infrastruktur

10.    Berkurangnya Kesenjangan

11.    Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

12.    Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

13.    Penanganan Perubahan Iklim

14.    Ekosistem Lautan

15.    Ekosistem Daratan

16.    Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh

17.    Kemitraan untuk Mencapai Tujuan


SDGs 4

SDGs 4 atau Sustainable Development Goals 4 , adalah tujuan pembangunan berkelanjutan dengan orientasi konseptual yang berfokus pada pendi...